Poin Insight The Lean Startup

english

gagal

  • rencana bisnis yang terlalu detail bisa mengakibatkan gagal kalo salah seidit sja. bisa akurat kalo lagi di kondisi statis, sedangkan kita di kondisi sangat dinamis. mending jalanin sambil adain penyesuaian terus sepanjang jalan, adaptasi lapangan.

  • produk berubah, strategi juga, tapi visi jangan karena itu identitas kita yang bedain dengan kompetitor lainnya.

  • harus tau kapan harus maju sendiri kapan harus bermitra, dan kapan harus mengikuti tren kapan harus memegang teguh visi.

MVP

  • belajar juga bisa disingkat, gaharus berbulan-bulan nyiapin produk yang tujuannya cuman buat ngetes. keluarin aja, nanti cepet" dapet feedback dan terus belajar dari feedback itu, meningkat. fokusin energi untuk minimalin setiap siklus.

  • pertama bikin mvp yang menyasar konsumen awal, konsumen yang bener" butuh produk kita. bukan masyarakat umum. baru evaluasi dari sana. simple aja, yang penting bisa nyelesain masalah utama konsumen, fitur yang berlebihan bahkan bisa dianggap pemborosan karena belum teruji akan berguna atau tidak. hindari godaan untuk jadi sempurna di percobaan pertama.

  • bedanya startup yang sukses dan yang tidak yaitu mereka punya kebijaksanaan, kemampuan, dan perangkat untuk menentukan mana saja rencana mereka yang memang cemerlang dan mana yang sebenarnya keliru.

  • pisahin mana yang fakta mana yang masih asumsi, uji semua asumsi yang ada. jangan naif ngura kalo asumsi kita pasti bener. jangan nyesel sadarnya nanti pas produk udah jadi taunya asumsi awal kita aja udah salah. informasi seperti ini sangat penting nilainya bagi startup melebihi apapun. fakta fakta memang sering kali harus dijemput di lapangan.

ide

  • jangan takut ide dicuri, karena nyatanya perusahaan besar juga kebanjiran ide-ide brilian, tapi mereka harus mengutamakan konsumen lama mereka yang sangat besar dan tidak bisa berimprovisasi begitu saja. Disini lah startup diuntungkan karena konsumennya masih sedikit atau bahkan belum ada.

  • Sayangnya, para konsumen seringnya tidak tahu apa sebenarnya masalah mereka.

  • bisa jadi juga yang kita kira sepele, ternyata sangat penting di mata konsumen. yang kita agung-agungkan, ternyata disepelekan. konsumen tidak peduli berapa lama sesuatu dibuat. mereka hanya peduli apa manfaatnya bagi mereka.

  • sukses itu bukan berdasarkan fitur yang kita rilis, tapi itu tentang apakah kita berhasil memecahkan masalah konsumen.

batch kecil

  • bakal lebih bagus kalau waktu dari persiapan sampai dapet feedback itu diperkecil. jadi andelin batch kecil aja, biar ga kelewatan ngeluarin produk besar yang ga diinginkan siapapun. batch kecil juga bisa bikin kita jadi lebih cepet tau kalo ada yang salah dan lebih gampang benerinnya. tapi memang tidak semuanya bisa dijadikan batch kecil.

  • kalau mau menguji banyak fitur, lakukan uji multivariat, produk dengan versi yang berbeda-beda ditujukan ke berbagai konsumen pada saat yang sama, baru diamati perkembangannya dari situ. tapi batasi versinya, jangan sampai terlalu banyak sampai ga kepegang lagi.

  • jangan fokusin sumber daya buat ngejar ilusi kesuksesan yang sifatnya sementara kaya misalnya dari iklan, ga organik ga bakal tahan lama, ujungng-unjungnya percuma

  • kita juga harus tau apakah hasil yang terlihat memang disebabkan perubahan yang kita buat atau sekedar kebetulan? atau bisa jadi itu karena pekerjaan kita dulu yang baru keliatan hasilnya sekarang.

  • indikator keberhasilan harus dibuat berdasarkan sebab akibat yang jelas, ini juga mempermudah kita dalam mempelajarinya, harus bisa dipahami semua orang, hindari pemakaian istilah yang terlalu teknis. indikator yang abal-abal sangat berbahaya karena bisa memerdayai otak kita.

tambahan poin-poin

  • kalau produk bener" gagal, saatnya banting setir, mengganti fundamental bisnis yang terbukti gagal. umur startup baru bisa dibilang mati jika tidak bisa lagi melakukan banting setir. jenis" di halamn 178

  • biasanya kalau angkanya turun, orang lain yang akan disalahkan. Ini menyebabkan kita sering memberikan data yang diinterpretasikan sesuai keinginan ketimbang sebagai tolak ukur.

  • menggunakan teknik five whys, yaitu terus menanyakan kenapa dan kenapa sebanyak 5 kali setiap terjadi kesalahan. tapi biasanya jadi saling menyalahkan, dan yang tidak hadir bakal jadi kambing hitam. harus ada orang yang bisa memimpin rapat dengan baik agar pembahasan tidak menjadi buruk

back to blog

Report abuse